Rabu, 26 Februari 2014

The Loser


Langit senja menyeruakkan warna semarak. Warna jingga keemasan yang membuat berbinar mata siapapun yang melihatnya. Angin sepoi menerpa wajahku. Terasa sangat sejuk menerpa hati yang berkabut.

Teringat diri yang berserabut dan kusut. Ini sungguh memalukan. Aku saat ini berumur hampir seperempat abad. Sungguh mengenaskan hidupku ini. Sejak SD hingga SMP hidupku selalu dipermudah dengan jalan pintas, bukan perjuangan. Mendapat gelar sang juara yang terbungkus kepalsuan. Hingga akhirnya SMA, aku berada di lingkungan yang cukup ketat dengan kompetisi dan aku tidak pernah lolos dari kompetisi itu. Dari sang juara kini beralih ke sang pecundang. Di SMA yang tergolong favorit ini aku tidak bisa bahkan untuk berdiri tegak. Yang ada aku hanya bisa jatuh, terpuruk dan terperosok dalam kebodohanku sendiri. Ya aku ini bodoh, bahkan sungguh bodoh. Kebodohanku berasal dan berawal dari kemalasanku untuk belajar, baik itu belajar akademis maupun belajar tentang kehidupan. Aku hanya manusia yang ikut2an, tidak ingin diabaikan, ingin tetap diperhitungkan meski tidak layak, dan sangat pragmatis, sungguh tidak memiliki pendirian dan sikap sama sekali. Di sini terlihat betapa pecundangnya aku ini, betapa kegemilangan di masa lalu itu hanya sebuah kepalsuan sejati.

Lulus dari SMA pun aku dipermudah dengan jalan pintas. Bukan perjuangan. Sekali lagi bukan perjuangan dari diriku sendiri. Sungguh memalukan. Hingga kuliahku pun dipermudah lewat jalan pintas yang lain, yaitu terjebak dalam kampus yang tidak membuatku harus berjuang, kampus yang pragmatis juga, sama seperti diriku. Dari 2007 hingga 2014 aku masih di kampus ini, bayangkan, selama hampir 7 tahun aku di sini. Tidak beranjak. Stagnan dengan pasti. Skripsiku belum selesai hingga kini, dan di akhir2 masa kuliahku ini pun aku mengambil jalan pintas. Ya jalan pintas. Padahal dari dulu sejak aku kecil aku selalu berkhayal menjadi seorang yang hebat,  punya pengaruh, banyak teman, pintar daan lain-lain. Aku berkhayal menjadi orang yang sukses. Tapi aku hanya berkhayal, karena aku tidak membarenginnya dengan tindakan untuk mewujudkannya. Ya aku hanya berkhayal, bukan bermimpi dan berusaha menyatakan mimpi itu. Sampai sekarang pun akhirnya aku masih menjadi pecundang, The Loser. Hingga kini aku masih belum mengerti apa artinya berjuang, apa artinya berkorban. Orang tua dan keluargaku pun tidak memaksa aku tuk menjadi seorang pejuang. Dan akhirnya aku hanya menjadi seorang pecundang. Dari dulu aku selalu memilih mengambil jalan pintas. Aku mengambil jalan yang sebagian besar diambil oleh orang lain/orang2 di sekelilingku. Meskipun aku tau jalan itu bukan jalan yang membuatku makin baik, tetapi itu adalah jalan bagi The Loser. Tapi pada faktanya aku akhirnya selalu mengambil jalan pintas itu, jalan The Loser. Aku selalu menyesal tapi penyesalanku hanya berumur sehari. Setelah itupun aku akan mengambil jalan The Loser, meskipun aku tau betul seperti apa jalan itu.



Aku sungguh tidak tau setan apa yang bersemayam dalam diriku ini. Setan yang selalu berhasil membujukku mengambil jalan The Loser, padahal aku tau itu jalan bodoh. Aku tidak tau lagi bagaimana caranya mengurus diriku ini. Aku hampir selalu bisa memotivsi orang lain, tapi aku hampir selalu tidak bisa memotivasi diriku sendiri. Apa yang harus dilakukan dengan orang sepertiku ini?? Akupun tidak tau, klo aku tau niscaya aku telah menjadi pribadi yang sukses, tapi faktanya aku adalah seorang pecundang. Aku ingin sekali berjalan dan memiliki sahabat seorang visioner, yang mana ia bisa mengajak bahkan memaksa diriku yang seorang pecundang ini agar mengikuti langkah visionernya. Sungguh aku ingin sekali memiliki sahabat seperti itu. Tapi aku belum menemukannya dan entahlah apakah aku bisa menemukannya atau tidak. Di usia 24 tahunku inipun aku belum menemukan sosok itu. Aku pernah nonton dan baca novel sang pemimpi, dan aku sangat ingin memiliki seorang teman yang memiliki jiwa seorang Aray di dalamnya. Aray, seorang visioner nyata, yang mampu menggerakkan dirinya dan orang di sekitarnya, jiwa luar biasa yang begitu langka dan jarang ditemukan di dunia nyata kini. Tapi aku tetap berharap aku masih bisa menemukan sosok seperti itu dalam kehidupanku yang suram ini. Aku hanya ingin bisa berlari bersamanya dan beriringan dengannya. Aku ingin, aku sungguh ingin.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar