Langit senja menyeruakkan warna semarak. Warna jingga
keemasan yang membuat berbinar mata siapapun yang melihatnya. Angin sepoi
menerpa wajahku. Terasa sangat sejuk menerpa hati yang berkabut.
Teringat diri yang berserabut dan kusut. Ini sungguh memalukan.
Aku saat ini berumur hampir seperempat abad. Sungguh mengenaskan hidupku ini.
Sejak SD hingga SMP hidupku selalu dipermudah dengan jalan pintas, bukan
perjuangan. Mendapat gelar sang juara yang terbungkus kepalsuan. Hingga
akhirnya SMA, aku berada di lingkungan yang cukup ketat dengan kompetisi dan
aku tidak pernah lolos dari kompetisi itu. Dari sang juara kini beralih ke sang
pecundang. Di SMA yang tergolong favorit ini aku tidak bisa bahkan untuk
berdiri tegak. Yang ada aku hanya bisa jatuh, terpuruk dan terperosok dalam
kebodohanku sendiri. Ya aku ini bodoh, bahkan sungguh bodoh. Kebodohanku
berasal dan berawal dari kemalasanku untuk belajar, baik itu belajar akademis
maupun belajar tentang kehidupan. Aku hanya manusia yang ikut2an, tidak ingin
diabaikan, ingin tetap diperhitungkan meski tidak layak, dan sangat pragmatis,
sungguh tidak memiliki pendirian dan sikap sama sekali. Di sini terlihat betapa
pecundangnya aku ini, betapa kegemilangan di masa lalu itu hanya sebuah
kepalsuan sejati.
Lulus dari SMA pun aku dipermudah dengan jalan pintas.
Bukan perjuangan. Sekali lagi bukan perjuangan dari diriku sendiri. Sungguh
memalukan. Hingga kuliahku pun dipermudah lewat jalan pintas yang lain,
yaitu terjebak dalam kampus yang tidak membuatku harus berjuang, kampus yang
pragmatis juga, sama seperti diriku. Dari 2007 hingga 2014 aku masih di
kampus ini, bayangkan, selama hampir 7 tahun aku di sini. Tidak beranjak. Stagnan
dengan pasti. Skripsiku belum selesai hingga kini, dan di akhir2 masa kuliahku
ini pun aku mengambil jalan pintas. Ya jalan pintas. Padahal dari dulu sejak
aku kecil aku selalu berkhayal menjadi seorang yang hebat, punya pengaruh, banyak teman, pintar daan
lain-lain. Aku berkhayal menjadi orang yang sukses. Tapi aku hanya berkhayal,
karena aku tidak membarenginnya dengan tindakan untuk mewujudkannya. Ya aku
hanya berkhayal, bukan bermimpi dan berusaha menyatakan mimpi itu. Sampai
sekarang pun akhirnya aku masih menjadi pecundang, The Loser. Hingga kini aku masih belum mengerti apa artinya
berjuang, apa artinya berkorban. Orang tua dan keluargaku pun tidak memaksa
aku tuk menjadi seorang pejuang. Dan akhirnya aku hanya menjadi seorang
pecundang. Dari dulu aku selalu memilih mengambil jalan pintas. Aku mengambil
jalan yang sebagian besar diambil oleh orang lain/orang2 di sekelilingku.
Meskipun aku tau jalan itu bukan jalan yang membuatku makin baik, tetapi itu
adalah jalan bagi The Loser. Tapi
pada faktanya aku akhirnya selalu mengambil jalan pintas itu, jalan The Loser. Aku selalu menyesal tapi
penyesalanku hanya berumur sehari. Setelah itupun aku akan mengambil jalan The Loser, meskipun aku tau betul
seperti apa jalan itu.
Aku sungguh tidak tau setan apa yang bersemayam dalam
diriku ini. Setan yang selalu berhasil membujukku mengambil jalan The Loser, padahal aku tau itu jalan
bodoh. Aku tidak tau lagi bagaimana caranya mengurus diriku ini. Aku hampir
selalu bisa memotivsi orang lain, tapi aku hampir selalu tidak bisa memotivasi
diriku sendiri. Apa yang harus dilakukan dengan orang sepertiku ini?? Akupun
tidak tau, klo aku tau niscaya aku telah menjadi pribadi yang sukses, tapi
faktanya aku adalah seorang pecundang. Aku ingin sekali berjalan dan
memiliki sahabat seorang visioner, yang mana ia bisa mengajak bahkan memaksa
diriku yang seorang pecundang ini agar mengikuti langkah visionernya.
Sungguh aku ingin sekali memiliki sahabat seperti itu. Tapi aku belum
menemukannya dan entahlah apakah aku bisa menemukannya atau tidak. Di usia 24
tahunku inipun aku belum menemukan sosok itu. Aku pernah nonton dan baca novel
sang pemimpi, dan aku sangat ingin memiliki seorang teman yang memiliki jiwa
seorang Aray di dalamnya. Aray, seorang visioner nyata, yang mampu menggerakkan
dirinya dan orang di sekitarnya, jiwa luar biasa yang begitu langka dan jarang
ditemukan di dunia nyata kini. Tapi aku tetap berharap aku masih bisa menemukan
sosok seperti itu dalam kehidupanku yang suram ini. Aku hanya ingin bisa
berlari bersamanya dan beriringan dengannya. Aku ingin, aku sungguh ingin.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar