Tidak ada
yang istimewa. Semua biasa saja. Aktivitas yang biasa. Rutinitas yang normal. Yah,
hidup yang sangat biasa. Aku bahkan baru nyadar betapa biasa dan tidak
istimewanya diri ini. Istimewa? Ahhh.. Membayangkan kata itu saja membuatku
muak akan diriku sendiri yang sungguh sangat biasa ini. Yah, menurutku tidak
hanya aku yang merasa seperti ini. Di zaman yang semakin tua ini sudah sangat
banyak orang yang tidak bisa menjadi istimewa. Semua serba biasa. Dan itu
membuatku sangat merasa bosan berada di kehidupan ini. Tapi sebentar.. tidak
bisa menjadi istimewa? Ahh.. mungkin aku salah, bukannya tidak bisa tapi tidak
mau menjadi istimewa. Begitukah? Yah mungkin seperti itu, karena yang kualami
begitu adanya.
Bagi seorang
yang biasa lalu ingin menjadi istimewa itu bagai punuk merindukan bulan. Rasanya
menggapai yang sangat tinggi, sangat jauh. Namun bukan berarti itu tidak
mungkin. Semua itu mungkin, namun tentu saja dengan pengorbanan dan perjuangan
yang tidak sedikit dan tidak mudah. Proses yang dilaluinya tentu panjang dan
ujian akan terus menerus ditemui dalam proses tersebut. Bagi seorang yang biasa
proses ini adahal yang paling dibenci. Karena bagi seorang yang biasa, ia
memliki pemikiran yang instan, semua inginnya serba cepat, bahkan kalau bisa tanpa
melalui sebuah perjalanan yang bernama proses. Proses adalah hal yang paling
dibenci, ditakuti dan dihindari. Pemikiran yang bodoh memang, tapi itu dia si
biasa, karena si biasa itu adalah seorang yang bodoh dan malas.
Si biasa
yang bodoh itu akan bisa menjadi sosok yang istimewa jika ia mengubahnya dengan
tangannya sendiri, dengan kekuatan dan semangatnya. Melawan ketakutan,
keengganan, kemalasan, prasangka yang tidak-tidak yang ada dalam dirinya. Mencoba
keluar dari belenggu kebiasaan dan kebodohannya. Yah, jika ia bisa keluar maka
ia telah menjadi seorang yang istimewa.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar